WAKTU DALAM KEHIDUPAN

Published May 18, 2013 by bahasaindonesia

WAKTU DALAM KEHIDUPAN

DCIM100MEDIAKaum muslimin rahimakumullah

Terlebih dahulu marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas nikmat dan karunia-Nya yang terlimpah kepada kita. Shoalawat dan salam tetap terlimpahkan kepada Nabi Muhammad SAW beserta keluarga, kerabat, sahabat, dan segenap pengikutnya.

Kaum muslimin rahimakumullah

Marilah dalam menjalani waktu selama kita hidup ini, kita selalu menata diri, agar selalu bertakwa kepada Allah SWT. Yaitu dengan lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah kita, serta melaksanakan apa-apa yang menjadi perintah dan menjahui semua apa yang menjadi larangan-Nya.

Dengan demikian, insya Allah kita akan berada dalam naungan ridha Allah, bias berfikir, berbicara, berbuat yang baik dalam pandangan Allah, dan pada akhirnya selamat sejahtera dan bahagia perjalanan hidup kita, fiddun yaw al akhirah. Amiin.

Kaum muslimin rahimakumullah

Sungguh berbahagia kita apabila dapat menjalani waktu-waktu dalam hidup ini dengan iman dan takwa kepada Allah SWT, juga dengan perilaku yang diridlai Allah, serta menjalani pergaulan dengan  baik, saling asih, saling asah dan saling asuh dengan sesame manusia. Allah SWT telah berfirman:

Artinya: “ Demi masa. Sesungguhnya manusia itu pasti dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal sholeh, dan saling berwasiat dengan kesabaran.” (QS Al-Ashr: 1-3).

Berdasarkan firman Allah ini maka dalam perjalanan umur menelusuri waktu, insya Allah diri kita akan selamat, apabila:

  1. Kita menjaga diri sebagai hamba Allah yang beriman. Artinya beriman kepada Allah SWT, tuhan pencipta dan penguasa seluruh alam satu-satunya tuhan yang wajib disembah dengan prinsip akiah: tauhid yang murni.
  2. Kita senantiasa mengisi hiduo ini dengan amal-amal shalih. Artinya, menata hidup ini, dengan selalu menjalankan apa-apa yang diperintahkan Allah dan menjahui semua yang dilarang-Nya.
  3. Kita saling berwasiat dengan kebenaran dan dengan kesabaran. Artinya, bertolak dari kesabaran, bahwa kita ini kita tidak hidup sendirian, melainkan berdampingan dengan orang lain, sesame manusia, sesama keluarga, sesame saudara, sesame warga masyarakat. Maka harus selalu ada: saling member, saling membantu, saling mengingatkan, saling menasihati.

Oleh karena itu, waktu yang kita jalani ini, sebenarnya merupakan nikmat dan anugerah dari Allah SWT yang sangat besar artinaya bagi kita.

 

Kaum muslimin rahimakumullah

Mari kita ikuti dan teladani Nabi kita Muhammad SAW. Beliau adalah oaring yang paling teliti dean paling hati-hati menjaga waktu-waktu dalam perjalanan hidupnya, agar selalu berjalan kearah hal-hal yang bermanfaat.

Bagi beliau, semua waktu adalah untuk ketaatan beribadah kepada Allah SWT. Bagi beliau, semua waktu adalah untuk berdzikir dan berdoa. Bagi beliau semua waktu adalah untuk bekerja guna kepentingan keluarga. Bagi beliau semua waktu adalah untuk mengemban tugas risalah dan memimpin umat.

Meskipun selalu sibuk dengan permasalahan umat, Rasulullah SAW tidak pernah berhenti atau berkurang dari beribadah, berdzikir, dan berdoa kepada Allah SWT. Meskipun sudah mendapat oredikat ma’shum dan dijamin surga, beliau sampai bengkak kakinya lantaran lamanya shalat malam.

Kalau kita memperhatikan umat pada masa sekarang ini, ternyata banyak di antara mereka yang tidak/kurang bisa memanfaatkan kesempatan yang dimiliki untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Rasulullah bersabda:

Artinya:” Jagalah lima hal sebelum dating lima hal yang lain:

  1. 1.    Masa hidupmu, sebelum datang ajalmu (matimu)
  2. 2.    Masa sehatmu, sebelum datang masa sakitmu
  3. 3.    Masa sempatmu, sebelum datang masa sempitmu
  4. 4.    Masa mudamu, sebelum datang masa tuamu
  5. 5.    Masa kayamu, sebelum datang masa miskinmu

Bahkan, ada juga orang-orang yang nyata-nyata telah berbuat slah, namun tudak menyesal. Usaha-usaha memperkaya diri dengan cara-cara yang tidak dibenarkan, seperti: korupsi, manipulasi, pungli, dan lain-lain sejenisnya.

Oleh karena itu, mungkin selama ini, kita hanya membuang-buang waktu dalam kelalaian. Mungkin selama ini kita lebih suka bersenang-senagng dan memperturutkan hawa nafsu. Mungkin selama ini, kita menghabis-habiskan waktu hanya untuk ghibah,  menggunjing, membicarakan aib orang lain.

Allah SWT telah berfirman:

Artinya: “Katakanlah:”Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia yang maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kamu keoada Tuhanmu dan berserah dirilah kepadanya, sebelum datang adzab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi. “

Kaum muslimin rahimakumullah

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan rahmat dan hidayahnya, dan memberikan kekuatan kepada kita, sehingga kita bisa menjalani waktu-waktu dalam hidup ini, dengan hal-hal yang bermanfaat, yang diridhai Allah, dan dapat mengantarkan kita meraih hidup sejahtera dan berbahagia fiddunya wal –akhirah. Amiin, ya rabbal ‘alamin.

SUARA MUHAMMADIYAH 09/98/20 JUMADILAKHIR-5 RAJAB 1434 H

JIWA FUTUWAH

Published April 27, 2013 by bahasaindonesia

Picture1pada suatu peperangan Ali bin Abi Thalib berhasil melumpuhkan dan nyaris membunuh lawannya. ketika pedang di ayunkannya, tiba-tiba sang lawan meludahi Ali. Ali marah dan tidak jadi membunuh musuhnya.

Sang lawan kaget dan bertanya kepada Ali mengurungkan niatnya membunuh padahal ia sudah tak berdaya? Ali menjawab, tadi ketika hendak membunuhmu, niatku bersih karena Allah. tetapi setelah diludahi dan timbul rasa geram, niatnya bercampur dengan amarah. Ali takut membunuh karena nafsu, lalu membebaskan musuhnya itu.

Mendengar jawaban Ali, sang musuh sangat takjub, akhirnya dia masuk Islam. Itulah sifat Futuah Ali. yakni menjunjung tinggi kesatriaan. Ali, setelah menjadi kholifah dan menghadapi konflik politik dengan Muawiyah, bahkan rela kehilangan kursi kekholifahannya. Ali menjunjung tunggi moral politik dalam kesepakatan politik yang dikhianati pihak Muawiyah. Demi kemuliaan akhlak, dia ikhlas jabatan lepas.

Ali sebagaimana teladan NAbi dan para sahabat akbar lainnya memang diajarkan Futuwah, menjalani hidup kesatria meski terhadap musuh sekalipun.

Futuwah, tulis Ibn Al- Husain As-Sulami, ialah pandangan hidup fata, pemuda yang gagah perkasa dan menjalani pencerahan diri. Kesetiaan Abu Bakar Shiddiq, kejujuran dan keadilan Umar bin Khattab, kekhusukan dan kesederhanaan Usman bin Affan, dan keberanian Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat maupun khalifah utama penerus Nabi memancarkan jiwa Fata atau Futuwah.

Jiwa Futuwah tercermin dalam kepribadian Ibrahim alaihissalam sewaktu muda yang menghancurkan berhala-berhala yang disembah kaumnya. Allah berfirman” Mereka berkata :”Kami dengar ada seorang pemuda yang mencela berhala-berhala ini yang bernama Ibrahim” (QS. Al- Anbiyak:60) . Pemuda Ashabul kahfi juga menunjukkan jiwa Futuwah, sebagaimana dikisahkan dalam Al-Qur’an: “Kami ceritakan kisah mereka kepadamu (Muhammad) dengan sebenarnya. Sesungguhnya mereka itu adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka dan kami tambahkan kepada mereka petunjuk”(Q.S. Al-Kahfi:13).

Muhammad sewaktu muda berhasil menyatukan kabilah Arab Quraisy yang nyaris saling menumpahkan darah pada waktu hendak meletakkan hajar aswad.  Muhammad dipilih untuk meletakkan batu hitam itu dengan melibatkan seluruh kepala suku, dengan masing-masing memegang ujung kain yang dibentangkan di mana hajr aswad diangkat bersama untuk diletakkan oleh Muhammad ke bangunan Kakbah. sejak itu Muhammad digelari Al-Amin, sosok    paling terpercaya. Allah bahkan memberi predikat Uswatun Hasanah kepada Nabi akhir zaman itu( Qs. Al- Ahzab:21).

Jika jiwa Futwah kini dipraktikan dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara di seluruh muka bumi sungguh utama dan mulia. Suami, Istri, anggota, keluarga hingga guru, dosen, karyawan, buruh, tani, nelayan, dan kalangan profesional yang berjiwa kesatri akan melahirkan kehidupan bersama yang penuh kebaikan serta jauh dari kemunkaran.

Apalagi jika yang berjiwa Futuwah atau kesatria itu para pejabat negara, penegak hukum, polisi, tentara, polisi, tokoh, dan pemimpin negara di seluruh struktur kehidupan di negeri tercinta ini. Sungguh akan melahirkan baldatun Thayyibatun wa rabbun ghafur sebagaimana diidealisasikan dalam Al-Quran. Kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara akan meraih kejayaan di semua bidang kehidupan jika para elit dan pemimpinnya kesatria atau berjiwa negarawan.

Sebaliknya jika jiwa Futuwah itu hilang maka perangai para elit dan pemimpin negara itu akan menjadi kerdil, munafik, menyimpang, korupsi, dan menimbulkan Fasad Fi al-ardl atau kerusakan di muka bumi. Bangsa dan Negara pun akan hancur sebagaimana firman Allah: ” Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” (QS. Ar-Rum:41). A.Nuha

SUARA MUHAMMADIYAH 08/98/5-19 JUMADILAKHIR 1434 H

SUJUD KU

Published February 26, 2013 by bahasaindonesia

unduhan

 

Wahai

Tuhanku…….

Bila dosaku bertambah banyak aku tahu ampunan – Mu lebih agung.

Jika tidak ada yang pantas memohon kepada – Mu kecuali orang baik,
Maka kepada siapa lagi seorang pendosa memohon dan mencari pelindungan..??

Tiada jalanku kepada – Mu
Kecuali dengan ridha – Mu,
Indahnya ampunan – Mu,
Dan aku sebagai seorang muslim.

” Allaahumma anta rabbii laa ilaaha illaa anta, khalaqtanii wa anaa ‘abduka wa anaa ‘alaa ‘ahdika wa wa’ dika mastatha’tu a ‘uudzubika min syarri maa shana’tu abuu u laka bini’ matika ‘alayya wa abuu u bidzanbii faghfirlii fa innahuu laa yaghfirudz dzunuuba illaa anta ”

(Ya Allah, Engkau-lah Tuhanku, tiada`Tuhan selain Engkau yang telah menciptakan aku. Aku adalah hamba – Mu dan aku berada diatas sumpahku dan janjiku pada – Mu semampuku. Aku berlindung kepada – Mu dari keburukan yang aku lakukan. Aku mengakui atas nikmat yang Engkau berikan kepadaku dan aku mengakui dosa (yang aku perbuat). Maka, maafkanlah aku. Sesungguhnya tidak ada yang bisa mengampuni dosa – dosa selain Engkau