Wawasan Al-Qur’an

Published June 4, 2012 by bahasaindonesia

Wawasan Al-Qur’an

oleh Dr. M. Quraish Shihab, M.A.


MASJID

Kata masjid terulang sebanyak dua puluh delapan kali di  dalam

Al-Quran.  Dari  segi bahasa, kata tersebut terambil dari akar

kata sajada-sujud, yang  berarti  patuh,  taat,  serta  tunduk

dengan penuh hormat dan takzim.

Meletakkan  dahi,  kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi, yang

kemudian dinamai sujud oleh syariat,  adalah  bentuk  lahiriah

yang  paling  nyata  dari makna-makna di atas. itulah sebabnya

mengapa bangunan yang dikhususkan  untuk  melaksanakan  shalat

dinamakan masjid, yang artinya “tempat bersujud.”

Dalam pengertian sehari-hari, masjid merupakan bangunan tempat

shalat kaum Muslim. Tetapi,  karena  akar  katanya  mengandung

makna tunduk dan patuh, hakikat masjid adalah tempat melakukan

segala  aktivitas  yang  mengandung  kepatuhan  kepada   Allah

semata.  Karena  itu Al-Quran sural Al-Jin (72): 18, misalnya,

menegaskan bahwa,

     Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah,

     karena janganlah menyembah selain Allah sesuatu pun.

Rasul Saw. bersabda,

     Telah dijadikan untukku (dan untuk umatku) bumi

     sebagai masjid dan sarana penyucian diri (HR Bukhari

     dan Muslim melalui Jabir bin Abdullah).

Jika dikaitkan dengan bumi ini,  masjid  bukan  hanya  sekadar

tempat  sujud  dan  sarana penyucian. Di sini kata masjid juga

tidak lagi hanya berarti bangunan tempat shalat,  atau  bahkan

bertayamum  sebagai  cara  bersuci  pengganti wudu tetapi kata

masjid  di  sini  berarti  juga  tempat  melaksanakan   segala

aktivitas  manusia  yang  mencerminkan  kepatuhan kepada Allah

Swt.

Dengan  demikian,  masjid  menjadi   pangkal   tempat   Muslim

bertolak, sekaligus pelabuhan tempatnya bersauh.

SUJUD DAN FUNGSI MASJID

Al-Quran  menggunakan  kata  sujud untuk berbagai arti. Sekali

diartikan sebagai penghormatan dan  pengakuan  akan  kelebihan

pihak   lain,  seperti  sujudnya  malaikat  kepada   Adam  pada

Al-Quran surat Al-Baqarah (2): 34.

Di waktu lain  sujud  berarti  kesadaran  terhadap  kekhilafan

serta  pengakuan kebenaran yang disampaikan pihak lain, itulah

arti sujud di dalam firman-Nya,

     Lalu para penyihir itu tersungkur dengan bersujud (QS

     Thaha [20]: 70).

Yang ketiga sujud berarti mengikuti maupun  menyesuaikan  diri

dengan  ketetapan  Allah  yang berkaitan dengan alam raya ini,

yang secara salah kaprah dan populer sering dinama hukum-hukum

alam.

     Bintang dan pohon keduanya bersujud (QS Al-Rahman

     [55]: 6).

Dari sunnatullah diketahui  bahwa  kemenangan  hanya  tercapai

dengan  kesungguhan  dan perjuangan. Kekalahan diderita karena

kelengahan dan pengabaian disiplin, dan sukses  diraih  dengan

perencanaan   dan   kerja   keras,  dan  sebagainya,  sehingga

seseorang tidak disebut bersujud, apabila  tidak  mengindahkan

hal-hal tersebut.

Al-Quran  menyebutkan  fungsi  masjid  antara  lain  di  dalam

firman-Nya:

     Bertasbihlah kepada Allah di masjid-masjid yang telah

     diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut nama-Nya di

     dalamnya pada waktu pagi dan petang, orang-orang yang

     tidak dilalaikan oleh perniagaan, dan tidak (pula)

     oleh jual-beli, atau aktivitas apa pun dan mengingat

     Allah, dan (dari) mendirikan shalat, membayarkan

     zakat, mereka takut kepada suatu hari yang (di hari

     itu) hati dan penglihatan menjadi guncang (QS An-Nur

     [24]: 36-37).

Tasbih bukan hanya berarti mengucapkan Subhanallah,  melainkan

lebih  luas  lagi,  sesuai dengan makna yang dicakup oleh kata

tersebut    beserta    konteksnya.    Sedangkan    arti    dan

konteks-konteks tersebut dapat disimpulkan dengan kata taqwa.

MASJID PADA MASA RASULULLAH SAW.

Ketika  Rasulullah  Saw. berhijrah ke Madinah, langkah pertama

yang  beliau  lakukan  adalah  membangun  masjid  kecil   yang

berlantaikan  tanah,  dan  beratapkan pelepah kurma. Dari sana

beliau membangun  masjid  yang  besar,  membangun  dunia  ini,

sehingga  kota tempat beliau membangun itu benar-benar menjadi

Madinah, (seperti namanya) yang arti harfiahnya adalah ‘tempat

peradaban’,  atau  paling  tidak,  dari  tempat tersebut lahir

benih peradaban baru umat manusia.

Masjid pertama  yang  dibangun  oleh  Rasulullah  Saw.  adalah

Masjid   Quba’,  kemudian  disusul  dengan  Masjid  Nabawi  di

Madinah. Terlepas dari perbedaan pendapat ulama tentang masjid

yang  dijuluki  Allah  sebagai masjid yang dibangun atas dasar

takwa (QS Al-Tawbah  [9]:  108),  yang  jelas  bahwa  keduanya

–Masjid   Quba   dan  Masjid  Nabawi–  dibangun  atas  dasar

ketakwaan, dan setiap masjid seharusnya memiliki landasan  dan

fungsi  seperti  itu.  Itulah  sebabnya mengapa Rasulullah Saw

meruntuhkan bangunan  kaum  munafik  yang  juga  mereka  sebut

masjid,  dan menjadikan lokasi itu tempat pembuangan samph dan

bangkai binatang, karena di bangunan tersebut tidak dijalankan

fungsi  masjid  yang  sebenarnya,  yakni  ketakwaan.  Al-Quran

melukiskan bangunan kaum munafik itu sebagai berikut,

     Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada

     orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan

     kemudharatan (pada orang Mukmin) dan karena

     kekafiran-(nya), dan untuk memecah belah antara

     orang-orang Mukmin, serta menunggu/mengamat-amati

     kedatangan orang-orang yang memerangi Allah dan

     Rasul-Nya sejak dahulu (QS Al-Tawbah [9]: 107).

Masjid Nabawi di Madinah telah menjabarkan fungsinya  sehingga

lahir  peranan  masjid  yang  beraneka ragam. Sejarah mencatat

tidak kurang dari sepuluh  peranan  yang  telah  diemban  oleh

Masjid Nabawi, yaitu sebagai:

 1. Tempat ibadah (shalat, zikir).

 2. Tempat konsultasi dan komunikasi (masalah

    ekonomi-sosial budaya).

 3. Tempat pendidikan.

 4. Tempat santunan sosial.

 5. Tempat latihan militer dan persiapan alat-alatnya.

 6. Tempat pengobatan para korban perang.

 7. Tempat perdamaian dan pengadilan sengketa.

 8. Aula dan tempat menerima tamu.

 9. Tempat menawan tahanan, dan

10. Pusat penerangan atau pembelaan agama.

Agaknya masjid pada masa silam mampu berperan sedemikian luas,

disebabkan antara lain oleh:

1. Keadaan masyarakat yang masih sangat berpegang teguh kepada nilai, norma, dan jiwa agama.

2. Kemampuan  pembina-pembina  masjid  menghubungkan  kondisi sosial  dan  kebutuhan  masyarakat  dengan uraian dan kegiatan masjid.

Manifestasi pemerintahan terlaksana di dalam masjid, baik pada

pribadi-pribadi pemimpin pemerintahan yang menjadi imam/khatib

maupun  di  dalam  ruangan-ruangan   masjid   yang   dijadikan

tempat-tempat kegiatan pemerintahan dan syura (musyawarah).

Keadaan   itu   kini   telah   berubah,   sehingga   timbullah

lembaga-lembaga  baru  yang  mengambil-alih  sebagian  peranan

masjid  di  masa  lalu,  yaitu organisasi-organisasi keagamaan

swasta  dan  lembaga-lembaga  pemerintah,   sebagai   pengarah

kehidupan  duniawi  dan ukhrawi umat beragama. Lembaga-lembaga

itu memiliki kemampuan material dan teknis melebihi masjid.

Fungsi dan peranan masjid besar seperti yang  disebutkan  pada

masa  keemasan  Islam  itu tentunya sulit diwujudkan pada masa

kini. Namun,  ini  tidak  berarti  bahwa  masjid  tidak  dapat

berperan di dalam hal-hal tersebut.

Masjid,   khususnya   masjid   besar,  harus  mampu  melakukan

kesepuluh  peran  tadi.  Paling  tidak  melalui  uraian   para

pembinanya  guna  mengarahkan  umat pada kehidupan duniawi dan

ukhrawi yang lebih berkualitas.

Apabila masjid dituntut berfungsi membina umat,  tentu  sarana

yang  dimilikinya  harus tepat, menyenangkan dan menarik semua

umat, baik dewasa, kanak-kanak, tua, muda, pria, wanita,  yang

terpelajar  maupun  tidak,  sehat  atau  sakit, serta kaya dan

miskin.

Di dalam Muktamar Risalatul Masjid di Makkah  pada  1975,  hal

ini telah didiskusikan dan disepakati, bahwa suatu masjid baru

dapat dikatakan berperan secara baik apabila memiliki ruangan,

dan peralatan yang memadai untuk:

a. Ruang shalat yang memenuhi syarat-syarat kesehatan.

b. Ruang-ruang  khusus wanita yang memungkinkan mereka keluar masuk tanpa bercampur dengan pria baik digunakan untuk shalat, maupun untuk Pendidikan Kesejahteraan Keluarga (PKK).

c. Ruang pertemuan dan perpustakaan.

d. Ruang   poliklinik,   dan   ruang  untuk  memandikan  dan mengkafankan mayat.

e. Ruang bermain, berolahraga, dan berlatih bagi remaja.

Semua hal di atas  harus  diwarnai  oleh  kesederhanaan  fisik

bangunan,  namun  harus  tetap  menunjang peranan masjid ideal

termaktub.

Hal terakhir ini  perlu  mendapat  perhatian,  karena  menurut

pengamatan  sementara  pakar,  sejarah kaum Muslim menunjukkan

bahwa   perhatian   yang   berlebihan   terhadap   nilai-nilai

arsitektur  dan  estetika  suatu masjid sering ditandai dengan

kedangkalan, kekurangan, bahkan kelumpuhannya dalam  pemenuhan

fungsi-fungsinya.  Seakan-akan  nilai  arsitektur dan estetika

dijadikan  kompensasi  untuk  menutup-nutupi  kekurangan  atau

kelumpuhan tersebut.

YANG BOLEH DILAKUKAN DAN YANG TIDAK DIPERBOLEHKAN DI DALAM

MASJID

Masjid  adalah  milik  Allah,  karena  itu  kesuciannya  harus

dipelihara.  Segala  sesuatu  yang  diduga mengurangi kesucian

masjid  atau  dapat  mengesankan  hal  tersebut,  tidak  boleh

dilakukan di dalam masjid maupun diperlakukan terhadap masjid.

Salah satu yang ditekankan oleh sebagian ulama sebagai sesuatu

yang tidak wajar terlihat pada masjid (dan sekitarnya)  adalah

kehadiran para pengemis,

Untuk  memelihara  kesucian  masjid, Allah Swt. berfirman agar

para pengunjungnya memakai hiasan  ketika  mengunjungi  masjid

sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-A’raf (7): 31:

     Hai anak-anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah

     setiap (memasuki) masjid.

Rasulullah Saw. menganjurkan agar memakai  wangi-wangian  saat

berkunjung  ke  masjid,  dan  melarang  mereka  yang baru saja

memakan bawang memasukinya.

     Siapa yang makan bawang putih atau merah hendaklah

     menghindar dan masjid kita.

Masjid harus mampu memberikan ketenangan dan ketenteraman pada

pengunjung  dan  lingkungannya,  karena  itu  Rasulullah  Saw.

melarang  adanya   benih-benih   pertengkaran   di   dalamnya,

sampai-sampai beliau bersabda,

     Jika engkau mendapati seseorang menjual atau membell

     di dalam masjid, katakanlah kepadanya, “Semoga Allah

     tidak memberi keuntungan bagi perdaganganmu,” dan bila

     engkau mendapati seseorang mencari barangnya yang

     hilang di da1am masjid, maka katakanlah, “Semoga Allah

     tidak mengembalikannya kepadamu (semoga engkau tidak

     menemukannya).”

Kedua teks yang disebutkan  di  atas  tidak  berarti  larangan

berbicara tentang perniagaan yang sifatnya mendidik umat, atau

melarang para pembina dan pengelola masjid berniaga, melainkan

yang  dimaksud  adalah larangan melakukan transaksi perniagaan

di dalam masjid.

Fungsi masjid paling tidak dinyatakan  oleh  hadis  Rasulullah

Saw.  ketika  menegur  seseorang  yang  membuang air kecil (di

samping) masjid:

     Masjid-masjid tidak wajar untuk tempat kencing atau

     (membuang sampah). Ia hanya untuk (dijadikan tempat)

     berzikir kepada Allah Ta’ala, dan membaca (belajar)

     Al-Quran (HR Muslim).

Dengan kata lain, masjid adalah tempat ibadah  dan  pendidikan

dalam  pengertiannya  yang  luas.  Bukankah Al-Quran berbicara

tentang segala aspek kehidupan manusia? []

—————-

WAWASAN AL-QURAN

Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat

Dr. M. Quraish Shihab, M.A.

Penerbit Mizan

Jln. Yodkali No.16, Bandung 40124

Telp. (022) 700931  Fax. (022) 707038

mailto:mizan@ibm.net

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: