Remaja di Dunia Permisif

Published June 7, 2012 by bahasaindonesia

Image

 

Remaja di Dunia Permisif

Saban ketemu, doi nggak pernah lupa bawa bunga mawar dan coklat, setiap ngomong selalu melontarkan kata mutiara, setiap turun dari mobil pintu selalu dibukakan, mau duduk, doi udah siap menarik kursi. Hmm…inikah yang disebut romantis?.

Romantis sebagai suasana penuh kemesraan terwujud dengan berbagai ekspresi. Bagi kalangan remaja berduit. Fragmen diatas bukan hanya ada di sinetron. Sanjungan, belaian mesra, hingga kontak fisik yang lebih dalam pun bisa saja terjadi.

Gejala ini juga menular pada kelompok remaja pinggiran. Awalnya mereka hanya tau lewat film, atau tayangan televisi. Kemudian hasratnya semakin bergelora karena lingkungan sekitarnya seolah membolehkan terjadinya pacaran dengan apologi perkembangan zaman. Terlebih lagi “kasak-kusuk” remaja sekarang tidaklah sempurna bila tidak diiringi romantisme dan mereka menganggapnya sebagai kebanggaan.

Seambrek remaja sudah terbiasa berganti-ganti pasangan. Faktor kecocokan adalah yang mereka cari. Cocok dan mampu memuaskan pasangannya dinilai sebagai puncak PDKT.

Dilain waktu seorang bertutur, “Bagaimana  mungkin suatu buku bertema potret hitam kehidupan jakarta akan bermanfaat bagi pembacanya (terutama remaja) bila paparanya justru membangkitkan nafsu sahwat pembacanay? Eksploitasi seksual tergambar dengan sangat gamblang. Siapa pun akan tertarik membacanya bukan karena keingintahuannya terhadap sesuatu yang terjadi dalam dunia remang-remang jakarta melainkan karena merasa enjoy dengan tutur bahasa yang mampu memancing ilusi seksual sang pembaca.”

Kekhawariran ini layak kita timbangkan. Sebagai solusi dari dampak buruk tayangan televisi maka banyak pihak menyarankan kepada para remaja untuk menggemari budaya baca. Tetapi begitulah remaja juga manusia yang mempunyai naluri seksual. Tawaran untuk kembali ke buku, bukan sebatas wujut wujut fisik, namun esensinya perlu diawasi segenap elemen masyarakat.

Berpuluh, beratus, bahkan beribu, pembahasan hal ini diatas pernah kita dengar atau kita baca. Jika permasalahan ini tidak menyentuh diri kita, mungkin kita merasa aman. Atau bagi seseorang yang memiliki keiimanan “ yang lumayan” walaupun sudah tahu ia masih memerlukan nasihat-nasihat agama. Tetapi akan berbeda bagi mereka yang jauh dari bimbingan hidayah. Jangankan diberi pengetahuan tentang agama diluruskan sedikitpun ia merasa terusik karena aura(getaran) jiwanya adalah kemaksiatan dan ia merasa nikmat dengan kesesatannya itu.

Jenuh, adalah suasana yang dapat menyerang siapa saja. Tak terkecuali jenuh dengan nasihat-nasihat agama. Bagimkalngan muda, kesenagan hidup sering kali dianggap bertolak belakang dengan aturan agama. Jika meminta petunjuk agama tentulah tidak ada kesenagan yang  biasa dilakoni oleh remaja. Begitu gumam mereka.

Permisif, telah mampu mengambil hati banyak remaja. Sebagai kelonggaran hidup, permisif membolehkan remaja melakukan apapun yang mereka suka. Ya, permisif, aturan serba boleh telah menawan banyak remaja kita.

Setidaknya ada dua latar belakang yang membuat seseorang siap diatur agama. Yang pertama, karena faktorkeimanan yang telah tertanam sejak dini. Dan yang kedua, karena pengalaman hidup seseorang yang mengantarkan kepada hidayah Allah. Dalam kondisi yang pasti, keduanya harus berasal dari ilmu agama yang shahih. Jika tidak ada klaim yang terhadap kebenaran walaupun sesungguhnya batil (sesat).

Ketika kita manapaki dunia permisif remaja, jangan kaget mereka menolak ajakan kita untuk berpegang teguh kepada aturan islam. Serba boleh yang mereka anut serta menampik mentah-mentah nilai-nilai islam. Tetapi, sebagaimana latar belakang pengalaman hidup seseorang, pekatnya dunia glamor mungkin perlu dinaungi terlebih dahulu dengan awan kesejukan. Maksutnya, silahkan menimbang hakikat kehidupan ini. Sungguh, telah hidup orang-orang sebelum kita. Dan akhirnya mereka mati. Akhirnya kita yakin bahwa tidak layak menukar kehidupan akhirat dengan kesenangan kehidupan dunia yang sesaat karena akibatnya seperti yang digambarkan oleh Allah dalam surat al-Baqorah ayat 86, “Itulah orang-orang yang memberi kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksaan mereka dan mereka tidak dotolong.”

Sederhanya, remaja berpotensi dalam kegaulan hidup. Pada saat itulah kita membutuhkan hoidayah Allah.

Disisi lain adapula remaja yang siap menerima pendidikan agama walaupun tersa “gerah” bagi kalangan awam karena kita pernah mendengar anekdot “ kalau banyak tahu agama kita nggak bisa hura-hura dong!” Jika kita mau masuk surga, sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan pengetahuan agama yang kita miliki. Malah hal tersebut akan menentramkan kehidupan kita.

Pangkal kekeliruan 

            Berbagai tindakan menyimpang yang dilakukan remaja ternyata memiliki muara yang boleh dikatakan sama, yaitu kekeliruan dalam  memahami dan menyikapi masamuda. Hampir sebagian besar remaja memiliki persangka dan persepsi, bahwa masa muda adalah masa berkelana, hura-hura, bersenang-senang, main-main, berfoya-foya, dan menghabiskan waktu untuk bersuka ria semuanya.

Untuk menimbang dan memandang dari sudut syar’I dikatakan belum waktunya dan bukan trennya. Padahalnya kenyataannya syariat berbicara lain, yaitu masa muda adalah masa dimulainya seseorang untuk memikul suatu beban tanggung jawab sebagaimana yang telah disebutkan dalam sebuah hadits riwayat At-Tirmidzi, bahwa ada tiga golongan yang pena diangkat (tidak ditulis dosanya) yang slah stunya adalah seseorang anak hingga ia dewasa (menjadi remaja). Maka bagaimanakah seorang remaja muslim yang ketika itu catatan keburukan sudah mulai ditulis malah justru memperbanyak keburukannya?

Yang sebenarnya adalah, masa muda merupakan masa dimulainya menumpuk dan memperbanyak amal kebajikan, masa menghitung dan intropeksi diri, masa penuh semangat dan jiwa membara untuk membangun dan beramal sebanyak-banyaknya. Masa dimana segenap kemampuan dan tenaga dicurahkan serta masa yang penuh dengan kesempatan emas untuk melakukan berbagai ketaatan dan kebaikan.

Dan diantara kesalahan yang dilakukan reaja

1.      Meremehkan kewajiban

Banyak diantara remaja yang meremehkan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan oleh Allah. Mereka lupa, bahwa Allah menciptakan manusia tidak lain adalah agar beribadah kepadanya. Allah berfirman “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rizki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya memberi aku makan. “(QS. Adz-Dzariat:56-57)

Allah Swt dalam hadits Qudsi, berfirman” Tidaklah hamba-Ku melakukan Taqarrub (ibadah)  dengan sesuatu yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah aku wajibkan kepadanya”(HR. AL-Bukhori)

Kewajiban paling pokok yang sering dilupakan oleh anak muda adalah shalat (lima waktu) yang merupakan ibadah paling agung setelah syahadattain.  Nabi telah menegaskan dalam sabdanya, “ Pemisah antara seseorang dengan kemusrikan dan kekufuran adalah (dalam hal meninggalkan shalat) “( HR. MUSLIM)

Dan sabda yang lain “ Perjanjian antara kita (muslim) dengan mereka (orang kafir) adalah shalat, maka barang siapa meninggalkannya ia telah kafir” ( HR. Ahmad, At-Tirmidzi dan Annasai dishahihkan oleh Al-Albani).

Apabiala seseorang telah menyia-nyiakan shalatnya, maka terhadap selain shalat biasanya lebih menyia-nyiakannya.

2.      Terlalu menuruti hawa nafsu

Yakni dengan tanpa memperhatikan halal dan haram lagi, yang penting kemauannya terpenuhi. Jika saja ia mau bersungguh-sungguh memegang aturan agama islam serta mau berpegang dengan agama-Nya, maka tentu Allah akan menjaganya dari hal-hal yang haram. Kemudian Allah akan memberikan untuknya kesenangan yang halal yang dapat mencukupinya. Namun karena keimanan yang lemah dan rasa malu yang tipis maka ia malah enggan dengan pemberian Allah tersebut dan lari darinya sehingga melanggar batas-batas yang telah ditetapkan Allah. Maka ia berhak mendapatkan celaan dari Allah dalam firmannya,” Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya maka kelak mereka akan menemui kesesatan” (QS. Maryam59.

3.      Menyia-nyiakan waktu/umur

Hal ini disebabkan karena ketidak tahuan terhadap hakikat fase masa muda, serta tujuan dari kehidupan. Seandainya para remaja menyadari, bahwa waktu adalah kehidupan dan umur adalah segala-galanya, tentu mereka tidak akan membuangnya dengan percuma. Sebagian Salaf berkata , “Wahai anak adam! Kalian adalah hari-hari yang berputar, tatkala lewat satu hari, maka bagian dari dirimu telah hilang”

                                    

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: