SHALAT TAHIYATUL MASJID

Published June 7, 2012 by bahasaindonesia

SHALAT TAHIYATUL MASJID 

Oleh Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam

Artinya :Dari Abu Qatadah Al-Harits bin Rabây Al-Anshary Radhiyallahu˜anhu, dia berkata,˜Rasulullah Shallallahu˜alaihi wa sallam bersabda : Jika salah seorang di antara kalian masuk masjid, maka janganlah duduk sebelum shalat dua rakaâat

MAKNA HADITS

Sulaik Al-Ghathafany masuk masjid Nabawi ketika Jumâat, saat Rasulullah Shallallahu ˜alaihi wa sallam menyampaikan khutbah, lalu dia langsung duduk. Beliau menyuruhnya bediri dan shalat dua rakaat. Kemudian beliau menyatakan bahwa masjid-masjid itu memiliki kesucian dan kehormatan, bahwa ia memiliki hak tahiyat atas orang yang memasukinya. Caranya, dia tidak langsung duduk sebelum shalat dua rakaat. Karena itulah beliau tidak memberi kesempatan, termasuk pula terhadap orang yang duduk itu untuk mendengarkan khutbah belaiu.

PERBEDAAN PENDAPAT DI KALANGAN ULAMA

Para ulama sering berbeda pendapat tentang pembolehan mengerjakan shalat-shalat yang memiliki sebab-sebab seperti shalat Tahiyatul Masjid, gerhana, jenazah dan qadha’ shalat yang ketinggalan pada waktu-waktu laranganshalat.

Madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali melarangnya, yang didasarkan kepada hadits-hadits pelarangannya, seperti hadits, Tidak ada shalat sesudah Subuh hingga matahari terbit dan tidak ada shalat sesudah Ashar hingga matahari terbenam Begitu pula hadits, Tiga waktu, Rasulullah Shallallahu ˜alaihi wa sallam melarang kami  shalat di dalamnyaâ

Sedangkan As-Syafi dan segolongan ulama membolehkannya tanpa hukum makruh. Ini juga merupakan salah satu riwayat dari Al-Imam Ahmad serta merupakan pilihan pendapat Ibnu Taimiyah. Mereka berhujjah dalam hadits dalam bab ini dan lain-lainnya yang semisal seperti hadits, Barangsiapa tidur hingga ketinggalan mengerjakan witir atau lupa, hendaklah mengerjakannya selagi mengingatnya. Begitu pula hadits, Sesungguhnya matahari dan rembulan merupakan dua tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Jika kalian melihatnya, maka dirikanlah shalatâ.

Masing-masing di antara dalil-dalil kedua belah pihak bersifat umum dari satu sisi dan bersifat khusus dari sisi yang lain. Hanya saja pembolehan shalat-shalat yang memiliki sebab-sebab pada waktu-waktu ini merupakan pengamalan terhadap semua dalil-dalil, sehingga masing-masing di antara dalil-dalil itu dapat ditakwili sedemikian rupa. Disamping itu, pembolehan tersebut bisa memperbanyak ibadah yang memiliki sandaran kepada syarat. Perbedaan pendapat ini sudah pernah disinggung dalam hadits Ibnu Abbas
(nomor 52). Namun kami ingin memberi tambahan kejelasan yang diambilkan dari perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, yang menyebutkan bahwa dia tidak berkomentar terhadap shalat-shalat yang memiliki sebab-sebab yang didasarkan kepada beberapa dalil yang kemudian diajdikan hujjah oleh orang orang yang melarangnya. Tapi setelah diteliti lebih lanjut bahwa dalil-dalil itu ada yang dhaif atau tidak mengarah, seperti sabda beliau. Jika salah seorang diantara kalian masuk masjid, janganlah dia duduk sehingga shalat dua
rakaatâ. Sabda beliau ini bersifat umum dan tidak ada kekhususan di dalamnya, karena itu merupakan hujjah menurut kesepakat salaf.

Telah disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ˜alaihi wa sallam menyuruh orang yang masuk masjid mengerjakan shalat Tahiyatul Masjid, ketika beliau sedang berkhutbah. Adapun hadits Ibnu Umar, Janganlah kalian mendekatkan shalat kalian dengan terbit dan terbenamnya matahari. Hal ini berlaku untuk shalat tatawuâ secara tak terbatas. Telah disebutkan pembolehan shalat-shalat yang memiliki sebab berdasarkan nash, seperti dua rakaat thawaf. Sebagian lagi dengan nash dan ijmaâ, seperti shalat jenazah setelah Ashar. Jika dilihat dari sisi pembolehan, maka tidak ada alasan kecuali keberadaan shalat itu yang memiliki sebab. Syariat telah menetapkan bahwa shalat dikerjakan sebisanya, ketika ada kekhawatiran akan habis waktunya, jika memungkinkan pelaksanaannya setelah waktunya dengan cara yang sempurna, begitu pula shalat-shalat tathawuâ yang memiliki sebab.

KESIMPULAN HADITS

  1. Pensyariatan Tahiyatul Masjid bagi orang yang memasukinya. Shalat ini wajib menurut golongan Zhahiriyah karena berdasarkan kepada zhahir hadits. Menurut pendapat jumhur, shalat ini sunat.
  2. Shalat ini disyariatkan bagi orang yang memasuki masjid kapanpun waktunya, meskipun pada waktu larangan shalat, karena keumuman hadits. Telah disebutkan dibagian atas pendapat lain tentang hal ini.
  3. Sunat wudhu bagi orang yang memasuki masjid, agar dia tidak ketinggalan
    mengerjakan shalat yang diperintahkan ini.
  4. Para ulama membatasi Masjidil Haram, bahwa tahiyatnya adalah thawaf. Tapi bagi orang yang tidak berniat thawaf atau dia kesulitan mengerjakannya, maka tidak seharusnya dia meninggalkan shalat ini, yang berarti dia shalat dua rakaat

[Disalin dari kitab Taisirul-Allam Syarh Umdatul Ahkam, Edisi Indonesia Syarah Hadits Pilihan Bukhari Muslim, Pengarang Syaikh Abdullah bin Abdurrahman bin Shalih Ali Bassam, Penerbit Darul Fallah]

_________

FooteNote
[1]. Di bab ini pengarang menyebutkan beberapa jenis amal shalat. Kami melihat ada baiknya jika kami memuat satu bab tersendiri dari jenis-jenis itu untuk menjelaskan maksudnya dan mengisyaratkan makna yang dikehendaki. Karena itu kami mendahulukan hadits Anas yang sujud di atas kain selimut karena udara panas, agar berdampingan dengan hadits Abu Hurairah, Jika panas menyengat, maka dinginkan shalatâ dan seterusnya, karena ada kesesuaian antara keduanya. Sementara pengarang memisahkan antara keduanya dengan menyebutkan dua hadits yang tidak sesuai dengan keduanya

Apabila sampai di pintu masjid, bacalah :

Artinya : Aku berlindung kepada Allah, Tuhan yang Maha Agung dengan zatNya yang mulia dan kekuasaanNya yang azali, daripada syaitan yang direjam. Segala puji bagi Allah. Ya Allah! Cucurilah selawat dan salamMu ke atas Nabi Muhammad, dan ke atas keluarga Nabi Muhammad. Ya Allah! Ampunilah bagiku segala dosaku dan bukakanlah bagiku pintu-pintu
rahmatMu, dan mudahkanlah bagiku pintu-pintu rezekiMu.

 

Kemudian masuk melangkah ke masjid dengan kaki kanan dahulu dan bacalah ‘Bismillah!’ Apabila keluar dari masjid, dahulukanlah kaki kiri sambil membaca :

Artinya : Aku berlindung kepada Allah, Tuhan yang Maha Agung, dengan zatNya yang mulia, dan kekuasaanNya yang azali, daripada syaitan yang direjam. Segala puji bagi Allah. Ya Allah, cucurilah selawat dan salamMu atas (Nabi) Muhammad, dan ke atas keluarga Nabi Muhammad. Ya Allah! Ampunilah segala dosaku dan bukakanlah bagiku pintu-pintu rezekiMu, lindungilah aku daripada syaitan dan askar-askarnya.

Doa dan Adab

Alhamdulillah. Segala puji hanyalah untuk Allah Subhanahu Wata’ala, yang atas limpahan nikmat dan karunia-Nya kita bisa menerima dan mengikuti cahaya Islam dan Sunnah dengan baik dan benar. Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shollallahu ’alaihi wa Sallam, keluarganya, para shahabat, dan para pengikutnya hingga akhir zaman kelak.


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: