BAB IX : SUNNAH DAN BID’AH

Published July 30, 2012 by bahasaindonesia

BAB IX :
SUNNAH DAN BID’AH

IKUTILAH SUNNAH RASUL DAN JANGAN MELA-KUKAN BID’AH
Bid’ah ada dua macam: duniawi dan keagamaan.
1.    Bid’ah duniawi ada dua macam: Bid’ah yang negatif, seperti bioskop, TV, video dan sejenisnya yang dapat merusak akhlak dan membahayakan masyarakat. Bahaya tersebut terjadi akibat film-film yang ditampilkannya. Tapi ada bid’ah yang positif seperti kapal terbang, mobil, telepon dan lain-lainnya yang bermanfaat bagi masyarakat dan mempermudah urusannya.
2.    Bid’ah keagamaan, yaitu yang tidak pernah ada pada zaman Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wa Sallam dan para sahabat sesudahnya. Bid’ah ini dilakukan dalam hal ibadah dan agama. Bentuk bid’ah ini merupakan bid’ah yang ditolak oleh Islam dan hukumnya sesat.
a.    Allah berfirman mengingkari kaum musyrik karena bid’ah mereka:
“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyari’atkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah.” (Asy-Syura: 21).
b.    Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa yang melakukan pekerjaan yang tidak ada pada sunnahku, maka pekerjaan tersebut tidak diterima.” (HR. Muslim).
c.    Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Waspadalah terhadap hal-hal yang baru, karena setiap yang baru itu bid’ah dan setiap bid’ah itu kesesatan.” (HR. Ahmad).
d.    Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wa Sallam bersabda:
“Sesungguhnya Allah menutup taubat setiap orang yang melakukan bid’ah sampai ia meninggalkannya.” (HR. Thabrani dan lainnya).
e.    Ibnu Umar berkata: “Setiap bid’ah itu kesesatan meski dianggap orang sebagai kebaikan.”
f.    Imam Malik berkata: “Barangsiapa yang mengadakan dalam Islam suatu bid’ah yang dianggapnya baik, maka ia telah menuduh bahwa Muhammad telah melakukan pengkhianatan terhadap risalah, karena sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agama-mu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmatKu, dan telah Kuridhai Islam itu sebagai agama bagimu.” (Al-Maidah: 3).
g.    Imam Syafi’i berkata: “Barangsiapa yang melakukan istihsan berarti ia telah membuat syari’at. Jika istihsan diperbolehkan dalam agama, tentu hal itu diperbolehkan juga bagi kaum intelektual yang tak beriman, dan diper-bolehkan pula dilakukan dalam setiap masalah agama serta setiap orang dapat membuat syari’at baru bagi diri-nya.”
h.    Ghadif berkata: “Suatu bid’ah tidak akan muncul kecuali karena ditinggalkannya sunnah.”
i.    Hasan Al-Basri mengatakan: “Janganlah kamu bersahabat dengan ahli bid’ah sehingga hatimu sakit.”
j.    Hudzaifah berkata: “Setiap ibadah yang tidak dilakukan oleh para sahabat Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wa Sallam maka jangan kamu laku-kan.”

MACAM-MACAM BID’AH
Bid’ah adalah setiap hal yang tidak mempunyai dasar dalam agama, seperti:
1.    Upacara maulid Nabi, Isra’ Mi’raj, malam nisfu Sya’ban, dan sebagainya.
2.    Berdzikir dengan tarian, tepuk tangan dan pukulan terbang, begitu juga meninggikan suara dan mengganti nama-nama Allah seperti dengan ah, ih, aah, hua, hia.
3.    Mengadakan acara selamatan dan mengundang para kyai untuk membaca Al-Qur’an setelah wafatnya seseorang dan lain sebagainya.

UCAPAN: SHADAQALLAHUL ‘AZHIIM
1.    Para qari’ biasa mengucapkan kalimat di atas setelah membaca Al-Qur’an, padahal ini tidak berasal dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam.
2.    Membaca Al-Qur’an adalah ibadah, maka tidak boleh ditambah-tambahi. Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa mengada-adakan dalam agama kita (suatu amalan) yang bukan berasal darinya, maka ia ditolak.” (Muttafaq ‘Alaih).
3.    Apa yang mereka lakukan itu tidak ada dalilnya, baik dari Al-Qur’an, Sunnah Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wa Sallam ataupun amalan para sahabat, ia adalah bid’ah orang-orang yang datang kemu-dian.
4.    Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wa Sallam mendengarkan bacaan Al-Qur’an dari Ibnu Mas’ud, tatkala sampai pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
Beliau bersabda: “Cukuplah.” (HR. Al-Bukhari).
Jadi beliau tidak mengucapkan: “Shadaqallahul ‘A-zhiem”, dan juga tidak memerintahkannya.
5.    Orang yang tidak mengerti dan anak-anak kecil mengira bahwa bacaan tersebut adalah salah satu ayat Al-Qur’an, maka mereka membacanya di dalam dan di luar shalat. Ini tidak boleh, karena bacaan tadi bukanlah ayat Al-Qur’an. Apalagi, kadang-kadang, ditulis di akhir surat dengan kaligrafi Mushaf.
6.    Syaikh Abdul Aziz bin Baz, ketika ditanya tentang bacaan tersebut, beliau menegaskan bahwa hal itu adalah bid’ah.
7.    Adapun firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Katakanlah: ‘Benarlah (apa yang difirmankan) Allah’. Maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus…” (Ali Imran: 95).
Maka ayat ini merupakan bantahan terhadap orang-orang Yahudi yang berdusta, berdasarkan ayat sebelumnya:
“Maka barangsiapa mengada-adakan dusta terhadap Allah…” (Ali Imran: 94).
Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wa Sallam pun telah mengetahui ayat ini, meski demi-kian beliau tidak mengucapkan hal tersebut setelah membaca Al-Qur’an. Begitu pula para sahabat dan para As-Salafush Shalih.
8.    Bid’ah ini sesungguhnya mematikan sunnah, yaitu do’a setelah membaca Al-Qur’an, berdasarkan sabda Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam:
“Barangsiapa membaca Al-Qur’an, hendaklah ia meminta kepada Allah dengan (bacaan)nya.” (HR. At-Tirmidzi, hasan).
9.    Bagi qari’ hendaklah dia berdo’a kepada Allah sesuka hatinya setelah membaca Al-Qur’an, dan ber-tawassul kepa-da Allah dengan yang dibacanya itu. Karena hal ini termasuk amal shalih yang menjadi sebab dikabulkannya do’a. Dan sebaiknya membaca do’a berikut ini:
Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wa Sallam bersabda: “Apabila seorang hamba ditimpa kesulitan dan kesedihan, lalu berdo’a:
(( اللَّهُمَّ إِنِّيْ عَبْدُكَ اِبْنُ عَبْدِكَ اِبْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِيْ بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأُلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيْ كِتَابِكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنَ خَلْقِكَ، أَوْ اِسْتَأْ ثَرْتَ بِهِ فِيْ عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ، أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيْعَ قَلْبِيْ وَنُوْرَ بَصَرِيْ وَجَلاَءَ حُزْنِيْ وَذَهَابَ هَمِّيْ وَغَمِّيْ ))
“Ya Allah, sungguh aku adalah hambaMu, anak hamba-Mu yang laki-laki dan anak hambaMu yang perempuan. Ubun-ubunku berada di tanganMu. Pasti terjadi keputus-anMu pada diriku dan adillah ketentuanMu pada diriku. Aku memohon kepadaMu dengan segala Asma’ milikMu, yang Engkau sebutkan untuk diriMu, atau Engkau turun-kan dalam kitabMu, atau Engkau ajarkan kepada salah seorang makhlukMu, atau masih dalam perkara ghaib yang hanya Engkau sendiri yang mengetahui. Jadikanlah Al-Qur’an penyejuk hatiku, cahaya penglihatanku, pembebas kesedihanku dan pengusir kegelisahanku.’Tiada lain, Allah pasti akan menghilangkan kesulitan dan kesedihannya, dan menggantikannya dengan kemudakan.” (HR. Ahmad, shahih).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: